Harga Emas Dunia Stabil pada 8 April 2026 di Tengah Ketegangan Geopolitik
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723189/original/060727400_1705921940-fotor-ai-20240122181141.jpg)
Pelaku Pasar Menahan Transaksi Menjelang Batas Waktu Ultimatum AS ke Iran
Jakarta – Harga emas dunia menunjukkan pergerakan stabil pada perdagangan Rabu, 8 April 2026. Kondisi ini terjadi ketika pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang tenggat waktu ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran.
Mengutip laporan CNBC, harga emas spot tercatat berada di level USD 4.648,32 per ons setelah sempat naik sekitar 1 persen di awal sesi. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat justru turun 0,3 persen menjadi USD 4.670,90 per ons.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menilai pasar cenderung menunggu kejelasan situasi. Ia menyebut para pelaku pasar menahan aktivitas karena ingin melihat perkembangan setelah batas waktu yang ditetapkan AS.
Ketegangan Iran dan Selat Hormuz Memicu Kewaspadaan Global
Situasi geopolitik memanas setelah Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Hingga menjelang tenggat, Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan memenuhi tuntutan tersebut.
Presiden Donald Trump bahkan mengeluarkan pernyataan keras dengan memperingatkan konsekuensi besar jika tidak tercapai kesepakatan. Kondisi ini membuat pelaku pasar global meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eskalasi konflik.
Namun demikian, fokus investor tidak sepenuhnya tertuju pada geopolitik. Wyckoff menegaskan bahwa pelaku pasar kini lebih memperhatikan arah kebijakan suku bunga bank sentral dibandingkan perkembangan konflik.
Ekspektasi Suku Bunga Tinggi Menekan Daya Tarik Emas
Pasar memperkirakan bank sentral utama dunia akan menunda penurunan suku bunga. Kondisi ini muncul seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Kenaikan harga minyak yang dipicu konflik mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Akibatnya, instrumen investasi berbasis imbal hasil menjadi lebih menarik dibandingkan emas.
Dalam situasi suku bunga tinggi, emas cenderung kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil. Oleh karena itu, permintaan terhadap logam mulia berpotensi melemah meski tetap berfungsi sebagai lindung nilai inflasi.
Harga Perak dan Logam Mulia Lain Turun Seiring Tekanan Pasar
Di sisi lain, harga logam mulia lainnya justru mengalami penurunan. Harga perak spot tercatat turun 2,7 persen menjadi USD 70,83 per ons.
Selain itu, harga platinum melemah 3,4 persen ke level USD 1.911,37 per ons. Sementara itu, paladium juga terkoreksi lebih dalam sebesar 4,3 persen menjadi USD 1.421,75 per ons.
Penurunan ini mencerminkan tekanan pasar yang lebih luas terhadap komoditas logam, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan perubahan preferensi investor.
