Harga Emas Menguat Usai Gagalnya Negosiasi AS-Iran dan Meningkatnya Risiko Geopolitik
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3458470/original/028995200_1621321945-20210518-Harga-Emas-Antam-2.jpg)
Negosiasi AS-Iran yang Gagal Mendorong Pasar Memperkirakan Lonjakan Harga Emas Global
Harga emas dunia bergerak fluktuatif setelah pasar merespons kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tidak menghasilkan kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa pembicaraan selama 21 jam tidak mencapai titik temu karena Iran menolak syarat utama terkait penghentian pengembangan senjata nuklir. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai harga emas berpotensi menguat jika konflik meningkat menjadi perang darat. Ia menjelaskan bahwa kegagalan kesepakatan dapat menekan nilai tukar rupiah sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia. Dalam situasi tersebut, emas kembali menarik sebagai aset safe haven yang dicari investor. Ia mencatat harga emas pada Sabtu, 11 April 2026, berada di level USD 4.749 per troy ounce dengan logam mulia Rp 2.860.000 per gram. Ia juga memperkirakan skenario penurunan dapat membawa emas ke USD 4.358 per troy ounce atau Rp 2.780.000 per gram, sementara skenario penguatan dapat mendorong harga hingga USD 5.138 per troy ounce dan Rp 3.100.000 per gram.
Pelaku pasar global kembali meningkatkan minat terhadap emas di tengah ketidakpastian geopolitik
Survei Kitco News menunjukkan pelaku pasar di Wall Street maupun investor ritel kembali melirik emas setelah gencatan senjata sementara di Timur Tengah dan tren kenaikan harga selama beberapa pekan terakhir. Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menilai harga emas masih berada dalam tren penguatan meski bergerak tidak stabil. Ia menyebut pasar telah melewati titik terendah dan mulai memasuki fase pemulihan setelah tekanan geopolitik sebelumnya.
Day juga menyoroti pengaruh aksi penjualan emas besar oleh Turki yang ikut membentuk dinamika pasar. Ia menegaskan bahwa emas tetap menguntungkan karena perannya sebagai lindung nilai akan kembali menguat jika konflik kembali memburuk. Namun, jika situasi geopolitik mereda, faktor moneter akan kembali mendominasi pergerakan harga emas global.
Analis pasar menilai emas bergerak konsolidasi di tengah risiko stagflasi global
Analis Barchart.com Darin Newsom menilai emas berpotensi mengalami koreksi jangka pendek karena kontrak berjangka mendekati puncak. Meski demikian, ia menilai analisis teknikal tidak sepenuhnya akurat dalam kondisi pasar saat ini. Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral global tetap menopang fundamental harga di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Presiden Asset Strategies International Rich Checkan tetap optimistis harga emas berpotensi menembus USD 5.000, meski ia mengingatkan risiko tekanan jika gencatan senjata kembali retak. Sementara itu, Colin Cieszynski dari SIA Wealth Management melihat emas bergerak dalam rentang USD 4.400 hingga USD 5.200 setelah reli besar sebelumnya. Ia menegaskan bahwa risiko stagflasi meningkat akibat gangguan pasar energi global yang memperkuat ketidakpastian arah harga emas.
