Bank Sentral Dorong Permintaan Emas Global hingga Cetak Rekor pada Kuartal I 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Pasar emas global mencatat pertumbuhan positif sepanjang kuartal pertama 2026. Kenaikan ini tidak hanya terlihat dari volume transaksi, tetapi juga dari lonjakan nilai permintaan yang mencapai level tertinggi dalam sejarah. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap emas fisik, terutama dalam bentuk batangan dan koin, di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan laporan terbaru World Gold Council yang dikutip dari Kitco pada Jumat, 1 Mei 2026, total permintaan emas dunia, termasuk transaksi over-the-counter atau OTC, mencapai 1.231 ton. Angka tersebut naik 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di saat yang sama, kenaikan harga emas yang berlangsung sejak awal tahun ikut mendorong nilai transaksi secara signifikan. Total nilai permintaan emas global melonjak 74 persen hingga menyentuh rekor baru sebesar USD 193 miliar.
Investor Tingkatkan Pembelian Emas Fisik saat Harga Berfluktuasi
Lonjakan permintaan paling kuat datang dari segmen investasi emas fisik. Permintaan terhadap emas batangan dan koin tumbuh 42 persen secara tahunan menjadi 474 ton, sekaligus mencatat salah satu posisi tertinggi sepanjang sejarah pasar emas global.
Dalam laporannya, analis World Gold Council menyebut sebagian besar permintaan terkonsentrasi pada Januari, ketika reli harga emas semakin menguat. Meski harga sempat mengalami koreksi, investor tetap melanjutkan pembelian sepanjang kuartal karena melihat peluang akumulasi aset safe haven.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor global masih menjadikan emas sebagai instrumen perlindungan nilai ketika volatilitas pasar meningkat.
Bank Sentral Perkuat Cadangan Emas di Tengah Gejolak Ekonomi
Selain investor individu, bank sentral juga mengambil peran besar dalam menjaga kekuatan pasar emas global. Sepanjang kuartal pertama 2026, pembelian emas oleh bank sentral mencapai 243,7 ton atau naik 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
World Gold Council menilai angka tersebut melampaui capaian kuartal sebelumnya sekaligus berada di atas rata-rata lima tahun terakhir. Kondisi ini memperlihatkan komitmen berkelanjutan berbagai negara dalam memperkuat cadangan devisa berbasis emas.
Meski demikian, beberapa bank sentral juga melakukan penjualan terbatas guna menjaga likuiditas di tengah tekanan ekonomi global, gangguan rantai pasok energi, serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran.
Ketidakpastian Global Jaga Prospek Emas Tetap Positif
Memasuki sisa tahun 2026, World Gold Council memperkirakan permintaan emas akan tetap solid. Faktor geopolitik, inflasi yang masih tinggi, dan fluktuasi pasar keuangan global diperkirakan terus menopang minat terhadap logam mulia.
Sementara itu, permintaan perhiasan memang turun menjadi 299,7 ton, level terendah sejak 2020. Namun dari sisi nilai, transaksi justru meningkat 31 persen menjadi USD 47 miliar, mencerminkan bahwa konsumen tetap melihat emas sebagai aset bernilai tinggi.
World Gold Council juga memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral global sepanjang 2026 bisa mencapai 700 hingga 900 ton. Dengan kondisi ekonomi dunia yang belum stabil, emas diperkirakan tetap menjadi pilihan utama investor maupun institusi keuangan.
