Pengamat Proyeksikan Harga Emas Dunia Tembus USD 5.400 pada Kuartal II 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih bergerak dinamis sepanjang kuartal kedua 2026. Tekanan geopolitik global, penguatan dolar Amerika Serikat, serta lonjakan harga minyak mentah terus membentuk arah pergerakan komoditas safe haven tersebut.
Di Jakarta, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa harga emas masih berada dalam fase fluktuatif. Menurut dia, kondisi pasar global saat ini menciptakan tekanan sekaligus peluang bagi investor yang aktif memantau pergerakan logam mulia.
Pada penutupan perdagangan terakhir, harga emas dunia tercatat di level USD 4.616 per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia domestik bertahan di Rp 2.796.000 per gram. Meski posisi tersebut masih tinggi, Ibrahim melihat ruang koreksi jangka pendek masih terbuka.
Ibrahim Assuaibi Memetakan Area Koreksi dan Penguatan Harga Emas
Ibrahim menjelaskan bahwa harga emas dunia berpotensi terkoreksi menuju area support pertama di USD 4.520 per troy ounce. Jika tekanan jual berlanjut, harga dapat bergerak ke support berikutnya di USD 4.389.
Koreksi tersebut juga berpotensi membawa harga logam mulia di pasar domestik mendekati Rp 2.750.000 per gram. Namun di sisi lain, Ibrahim tetap melihat peluang penguatan jika sentimen global berubah positif.
Apabila harga emas kembali menguat, ia memperkirakan level resistensi berada di kisaran USD 4.702 hingga USD 4.851 per troy ounce. Dalam skenario itu, harga logam mulia domestik berpotensi menyentuh Rp 2.900.000 per gram dalam waktu dekat.
Konflik Geopolitik Mendorong Proyeksi Harga Emas Lebih Tinggi
Dalam proyeksi kuartal kedua 2026, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia dapat menembus USD 5.400 per troy ounce. Pada saat yang sama, harga logam mulia di dalam negeri berpeluang mencapai Rp 3.300.000 per gram.
Ia menilai konflik geopolitik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan tersebut. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, berpotensi memicu lonjakan permintaan aset lindung nilai.
Selain konflik kawasan, gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz dan Laut Oman juga ikut memperkuat tekanan di pasar energi global. Kondisi ini mendorong harga minyak naik dan menguatkan dolar AS, yang dalam jangka pendek bisa memicu volatilitas harga emas.
Investor Menunggu Sentimen Baru dari Bank Sentral Global
Selain geopolitik, Ibrahim menyoroti perang dagang global, dinamika politik Amerika Serikat, kebijakan suku bunga bank sentral, serta keseimbangan pasokan dan permintaan sebagai faktor penggerak harga berikutnya.
Ia menilai setiap koreksi harga dapat membuka peluang akumulasi bagi investor yang berorientasi jangka panjang. Dengan kombinasi sentimen global yang masih kuat, harga emas dinilai tetap memiliki ruang penguatan hingga akhir tahun.
