Analis Pasar Global Membaca Arah Harga Emas di Tengah Tekanan Inflasi dan Sinyal The Fed
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Harga emas dunia menutup perdagangan pekan lalu dengan pelemahan setelah bergerak fluktuatif sepanjang lima hari transaksi. Tekanan jual sempat mendominasi pada awal pekan sebelum logam mulia kembali mencatat rebound terbatas menjelang penutupan pasar.
Di Jakarta, sentimen global kembali menjadi penentu utama arah pergerakan emas. Investor terus mencermati perkembangan inflasi, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat yang memengaruhi minat terhadap aset safe haven.
Mengutip laporan Kitco pada Senin, 4 Mei 2026, harga emas spot memulai pekan di level USD 4.685,50 per ounce. Harga sempat naik mendekati USD 4.730 sebelum tekanan pasar membawa emas turun tajam pada awal perdagangan.
Lonjakan Harga Minyak dan Penguatan Dolar Menekan Pergerakan Emas
Tekanan terhadap emas muncul ketika harga minyak mentah melonjak dan dolar Amerika Serikat menguat. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sehingga ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga semakin menurun.
Kenaikan harga energi juga memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Situasi ini membuat sebagian investor mengalihkan strategi investasinya, sehingga harga emas terus bergerak melemah hingga pertengahan pekan.
Pada Rabu, harga emas sempat menyentuh titik terendah mingguan di kisaran USD 4.510 per ounce. Meski sempat bangkit ke area USD 4.560, penguatan itu tidak bertahan lama karena pasar kembali merespons pernyataan terbaru dari Federal Reserve.
Sinyal Kebijakan The Fed Mengubah Sentimen Investor
Federal Reserve memberikan sinyal kebijakan yang dinilai masih agresif dalam menghadapi inflasi. Perbedaan pandangan di internal pembuat kebijakan juga membuat pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Nada kebijakan yang cenderung hawkish kembali memperkuat dolar AS. Akibatnya, harga emas tetap bergerak di area rendah karena investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset non-yielding.
Namun memasuki paruh akhir pekan, harga emas mulai menunjukkan pemulihan. Pada Kamis pagi, logam mulia sempat melonjak ke sekitar USD 4.650 per ounce sebelum kembali terkoreksi pada Jumat.
Survei Kitco Menunjukkan Pandangan Analis Masih Terbelah
Survei mingguan Kitco News memperlihatkan para analis dan investor masih memiliki pandangan berbeda mengenai arah harga emas pekan ini. Sebanyak 50 persen analis Wall Street memprediksi kenaikan, sementara 31 persen memperkirakan pelemahan, dan sisanya melihat pergerakan stabil.
Presiden Asset Strategies International, Rich Checkan, memperkirakan harga emas masih memiliki ruang penguatan setelah aksi jual akibat keputusan FOMC pekan lalu. Sementara analis Forex.com, James Stanley, juga melihat tren emas tetap berada dalam jalur naik.
Di sisi lain, analis RJO Futures, Daniel Pavilonis, menilai harga minyak dan perkembangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar emas dalam jangka pendek.
