Harga Emas Dunia Turun Saat Konflik AS-Iran Mengguncang Sentimen Investor
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
Jakarta – Harga emas dunia melemah tajam pada perdagangan Senin, 5 Mei 2026, setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong penguatan dolar AS. Kondisi tersebut langsung menekan minat investor terhadap aset safe haven dan memicu aksi jual di pasar logam mulia.
Mengacu pada data pasar internasional, harga emas spot turun 2,6 persen ke level USD 4.524,40 per ounce pada pukul 16.15 waktu setempat. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni juga ikut melemah 2,4 persen dan ditutup di posisi USD 4.533,30 per ounce.
Tekanan terhadap emas muncul ketika pelaku pasar mulai menilai konflik geopolitik justru meningkatkan risiko inflasi global, bukan menghadirkan rasa aman seperti yang biasanya terjadi pada aset lindung nilai.
Konflik Timur Tengah Dorong Dolar AS dan Harga Energi Menguat
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyebut perkembangan terbaru di Timur Tengah belum memberikan keyakinan bagi investor. Menurutnya, ketegangan yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat justru memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi serta kebijakan suku bunga global.
Eskalasi konflik terjadi setelah Iran menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz dan membakar pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab. Situasi itu berkembang setelah Presiden AS Donald Trump mengerahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mengamankan jalur perdagangan energi.
Dampaknya langsung terasa di pasar global. Dolar AS menguat signifikan, sementara harga minyak Brent melonjak lebih dari 5 persen. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga tekanan jual semakin besar.
Pada saat yang sama, lonjakan harga energi ikut memperkuat ekspektasi inflasi. Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan bank sentral global, terutama Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Suku Bunga Tinggi Tekan Prospek Logam Mulia
Pekan sebelumnya, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang disebut sebagai salah satu yang paling terbelah sejak 1992. Sikap hawkish tersebut memperkuat tekanan terhadap emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Bart Melek menilai harga emas masih memiliki area dukungan kuat di sekitar USD 4.200 per ounce. Namun dalam jangka pendek, ia melihat ketidakpastian geopolitik dan potensi suku bunga tinggi tetap bisa memicu keluarnya dana investor dari pasar emas.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 3,5 persen menjadi USD 72,67 per ounce, platinum melemah 2,2 persen ke USD 1.946,15, dan paladium turun 3 persen ke level USD 1.478,74.
