Harga Emas Dunia Merosot Pada Senin 27 April 2026

Pasar global merespons ketegangan geopolitik dengan menekan harga emas secara signifikan. Pada Senin, 27 April 2026, harga emas menyentuh level USD 4.679,32 per troy ons, yang berarti turun 0,62 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Penurunan ini menjauhkan logam mulia dari target psikologis USD 5.000 per troy ons setelah gagal menembus level tersebut pada sesi perdagangan sebelumnya.
Ketegangan Timur Tengah Mendorong Lonjakan Harga Minyak
Ketidakpastian perdamaian di Timur Tengah memicu reaksi negatif di pasar komoditas. Presiden Amerika Serikat membatalkan kunjungan utusan khusus ke Pakistan, sementara Iran menolak dialog di bawah ancaman. Situasi ini meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi komoditas global. Dampaknya, harga minyak mentah Brent melonjak 2,05 persen menuju level USD 107,5 per barel. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global yang sekaligus mempersempit peluang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Pasar Emas Indonesia Mencatat Penurunan Harga Fisik
Situasi pasar global memaksa harga emas fisik di Indonesia turun pada awal pekan ini. Antam mematok harga beli emas di angka Rp 2.809.000 per gram, atau turun Rp 16.000 dari penutupan akhir pekan lalu. Senada dengan harga beli, harga buyback juga terkoreksi ke level Rp 2.620.000 per gram. Namun, pasar emas digital menunjukkan performa yang berlawanan dengan mencatatkan kenaikan harga di aplikasi Treasury pada level Rp 2.692.651 per gram, yang mencerminkan dinamika permintaan berbeda pada instrumen investasi digital jangka pendek.
Investor Mencermati Pertemuan The Fed Sebagai Penentu Arah
Analis pasar memantau keputusan kebijakan moneter dari berbagai bank sentral dunia, terutama rapat FOMC pada 29 April 2026 mendatang. Meskipun indikator teknikal menunjukkan kondisi oversold, penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tetap menahan potensi reli emas. Para pakar menyarankan investor untuk tetap menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka panjang untuk mengantisipasi volatilitas pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
