Harga emas Antam naik Rp45.000 pada perdagangan Selasa 14 April 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4805340/original/093907000_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_2.jpg)
Antam mencatat kenaikan harga emas menjadi Rp2.863.000 per gram pada perdagangan Selasa 14 April 2026
PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguatkan harga emas batangan pada perdagangan Selasa, 14 April 2026, setelah pasar mencatat peningkatan permintaan di tengah dinamika global. Antam menetapkan harga emas sebesar Rp2.863.000 per gram, naik Rp45.000 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp2.818.000 per gram. Kenaikan ini menandai kembali menguatnya minat investor terhadap logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi internasional.
Antam juga mencatat bahwa harga emasnya masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang sejarah yang terjadi pada 29 Januari 2026, ketika harga menyentuh Rp3.168.000 per gram. Dengan demikian, pergerakan harga hari ini menunjukkan pemulihan bertahap setelah fase fluktuasi beberapa pekan terakhir.
Antam menaikkan harga buyback lebih tinggi hingga Rp2.639.000 per gram
Selain harga jual, Antam juga menaikkan harga buyback atau harga pembelian kembali emas menjadi Rp2.639.000 per gram. Nilai ini naik Rp54.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kenaikan buyback ini memperlihatkan respons pasar yang lebih kuat terhadap perubahan harga emas global dan domestik.
Antam menegaskan bahwa harga buyback menjadi acuan penting bagi masyarakat yang ingin menjual kembali emas batangan. Perbedaan kenaikan antara harga jual dan buyback menunjukkan dinamika pasar yang bergerak aktif mengikuti sentimen global.
Tekanan dolar AS dan ketegangan geopolitik menggerakkan pasar emas dunia
Pasar emas global ikut memengaruhi pergerakan harga emas domestik. Pada perdagangan awal pekan, harga emas dunia melemah akibat penguatan dolar AS serta kegagalan perundingan Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong volatilitas di pasar komoditas, termasuk emas.
Meski melemah dalam jangka pendek, emas tetap mendapatkan dukungan sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko inflasi global. Situasi ini membuat pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral dan perkembangan harga energi dunia.
