Harga Emas Dunia Melonjak dan Menembus Level Tertinggi pada Awal April 2026
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Harga Emas Dunia Menguat Empat Hari Berturut-turut akibat Pelemahan Dolar AS
Jakarta – Harga emas dunia terus menguat dan mencatat kenaikan selama empat sesi berturut-turut pada Rabu, 1 April 2026. Kenaikan ini terjadi seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) yang membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor global.
Di pasar spot, harga emas melonjak 2,5 persen hingga mencapai USD 4.784,22 per ounce, yang menjadi level tertinggi sejak 19 Maret 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga naik 2,9 persen dan ditutup di posisi USD 4.813,10.
Kondisi ini menunjukkan meningkatnya minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai, terutama ketika nilai dolar melemah dan pasar keuangan global bergerak dinamis.
Analis Menilai Harapan De-eskalasi Konflik Dorong Kenaikan Harga Emas
Pelaku pasar turut merespons harapan meredanya konflik di Timur Tengah yang memicu pergeseran sentimen investasi. Harapan tersebut mendorong aset berisiko menguat, namun tetap menjaga daya tarik emas di tengah ketidakpastian.
Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, menyatakan bahwa harga emas berpotensi menembus USD 5.000 per ounce apabila arah de-eskalasi konflik semakin jelas. Ia menilai ekspektasi penurunan suku bunga dapat kembali menguat dan menjadi katalis positif bagi emas.
Di sisi lain, analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai berakhirnya konflik dapat memberi dampak ganda. Ia menjelaskan bahwa meredanya ketegangan geopolitik bisa menurunkan permintaan aset aman, tetapi di saat yang sama berpotensi menekan inflasi dan membuka peluang pemangkasan suku bunga.
Harga Emas Sempat Tertekan Sepanjang Maret 2026
Sebelumnya, harga emas justru mengalami tekanan sepanjang Maret 2026. Dalam periode tersebut, harga emas spot tercatat turun lebih dari 11 persen akibat lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi.
Kenaikan inflasi membuat pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga, sehingga menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, suku bunga tinggi turut mengalihkan minat investor ke instrumen lain yang lebih menguntungkan.
Meski demikian, data ekonomi AS menunjukkan aktivitas tetap kuat. Laporan ketenagakerjaan ADP mencatat pertumbuhan penggajian swasta yang stabil, sementara penjualan ritel pada Februari meningkat signifikan, meskipun berpotensi tertahan kenaikan harga bahan bakar.
Harga Emas Mencatat Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2013
Meskipun sempat menguat pada awal April, harga emas tetap mencatat kinerja bulanan terburuk dalam lebih dari satu dekade. Sepanjang Maret 2026, harga emas turun lebih dari 10 persen, yang menjadi penurunan terdalam sejak Juni 2013 sekaligus mengakhiri tren kenaikan selama delapan bulan.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak sempat naik lebih dari 6 persen menjadi USD 74,92. Namun, sepanjang Maret, perak justru anjlok lebih dari 19 persen dan mencatat penurunan bulanan terburuk sejak 2011.
Walau mengalami tekanan pada Maret, kinerja kuartal pertama 2026 masih menunjukkan hasil positif. Harga emas tercatat naik lebih dari 7 persen, sementara perak meningkat sekitar 6 persen.
Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang. Perkembangan situasi geopolitik, termasuk potensi gencatan senjata dan pergerakan harga energi, akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi arah harga emas ke depan.
