Analis Prediksi Harga Emas Dunia Berpotensi Menguat pada Pekan Ini
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721216/original/051913900_1705711229-fotor-ai-2024012073928.jpg)
Survei Kitco Tunjukkan Analis dan Investor Kompak Arahkan Sentimen ke Kenaikan
Jakarta – Analis pasar komoditas memproyeksikan harga emas dunia berpeluang menguat sepanjang pekan ini. Prediksi tersebut muncul setelah survei mingguan Kitco News menunjukkan mayoritas analis dan investor ritel kembali mengarah pada sentimen bullish.
Sebanyak 16 analis Wall Street mengikuti survei tersebut. Hasilnya, delapan analis atau sekitar 50 persen memperkirakan harga emas akan naik dalam waktu dekat. Sementara itu, tiga analis atau 19 persen memprediksi penurunan, dan lima analis lainnya melihat pergerakan harga cenderung seimbang dalam jangka pendek.
Di sisi lain, jajak pendapat daring yang melibatkan 263 investor ritel juga memperlihatkan kecenderungan serupa. Sebanyak 139 responden atau 53 persen meyakini harga emas akan menguat, sedangkan 60 responden atau 23 persen memperkirakan penurunan. Adapun 64 investor lainnya atau 24 persen menilai harga akan bergerak stabil.
Analis Soroti Konflik Timur Tengah dan Kebijakan Moneter sebagai Pendorong
Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menilai harga emas masih memiliki ruang untuk naik meski pergerakannya cenderung bergejolak. Ia menyebut level penutupan di atas USD 4.350 dapat menjadi indikasi titik terendah sementara.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa meredanya konflik Iran dapat mengalihkan perhatian pasar ke kebijakan moneter global. Menurutnya, bank sentral menghadapi tantangan besar dalam menjaga komitmen menekan inflasi, terutama ketika data ekonomi mulai melemah.
Seiring itu, analis sekaligus pendiri BubbleBubble Report, Jesse Colombo, mengaitkan pergerakan emas dengan dinamika dolar Amerika Serikat dan harga minyak. Ia menilai lonjakan harga emas pada akhir pekan lalu terjadi setelah menembus level resistance jangka pendek di sekitar USD 4.470.
Ia juga menyoroti faktor teknikal yang memperkuat pergerakan tersebut. Menurutnya, harga emas masih bertahan dalam zona support penting di kisaran USD 4.300 hingga USD 4.600, yang telah menjadi area krusial sejak Oktober tahun lalu.
Sebagian Analis Ingatkan Potensi Koreksi di Tengah Tekanan Dolar AS
Di tengah optimisme tersebut, analis senior FXPro, Alex Kuptsikevich, justru memperkirakan harga emas berpotensi mengalami penurunan dalam waktu dekat. Ia menilai penguatan dolar AS dan koreksi pasar saham dapat memberikan tekanan terhadap harga emas.
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga emas sering kali tidak bertahan lama meski statusnya sebagai aset safe haven tetap menjadi daya tarik utama. Selain itu, memburuknya sentimen pasar juga dapat memicu margin call yang berdampak pada penurunan harga emas.
Menurutnya, tren bullish baru akan menguat apabila bank sentral utama memberikan sinyal jelas terkait pelonggaran kebijakan moneter.
Pelaku Pasar Fokus pada Data Ekonomi AS dan Ketidakpastian Geopolitik
Pada pekan ini, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk laporan ketenagakerjaan, data lowongan kerja, hingga klaim pengangguran. Meskipun sesi perdagangan berkurang akibat libur Jumat Agung, rilis data tersebut tetap menjadi perhatian utama.
Selain itu, Direktur Walsh Trading, John Weyer, menilai ketidakpastian terkait konflik Iran masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar. Ia menyebut kondisi ini membuat arah harga emas sulit diprediksi dalam jangka pendek.
Meski demikian, ia tetap melihat potensi harga emas bergerak ke level lebih tinggi dalam jangka panjang, meskipun sempat mengalami koreksi dari kenaikan sebelumnya.
