Harga Emas Dunia Melemah Saat Investor Menunggu Kepastian Konflik AS-Iran
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3192690/original/063821500_1595929323-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-5.jpg)
Investor Menahan Transaksi Sambil Menunggu Perkembangan Konflik Global
Jakarta – Harga emas dunia melemah pada awal perdagangan pekan seiring investor memilih bersikap wait and see terhadap perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung membuat pelaku pasar menunda keputusan investasi dalam jangka pendek.
Penurunan ini terjadi menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global sehingga setiap ketegangan di kawasan itu langsung memengaruhi sentimen pasar.
Mengutip CNBC pada Selasa, 7 April 2026, harga emas spot tercatat turun 0,4 persen menjadi USD 4.654,99 per ounce pada pukul 13.31 waktu New York. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat justru ditutup naik tipis 0,1 persen ke level USD 4.684,70 per ounce.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan keinginan untuk mengakhiri konflik secara permanen dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, Iran menolak tekanan untuk segera membuka kembali Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata sementara.
Sebaliknya, Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Ia mengancam akan mengambil tindakan tegas jika tidak tercapai kesepakatan hingga batas waktu yang telah ditentukan.
Kenaikan Suku Bunga dan Harga Minyak Menekan Pergerakan Emas
Selain faktor geopolitik, analis juga menyoroti pengaruh kebijakan suku bunga global terhadap harga emas. Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, menyebut bahwa pasar akan terus memantau perkembangan konflik dan arah suku bunga secara bersamaan.
Ia menjelaskan bahwa konflik yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak akibat terganggunya pasokan energi global. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membatasi ruang bank sentral, khususnya Federal Reserve, untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Lebih lanjut, kenaikan harga energi bahkan dapat memicu kembali wacana peningkatan suku bunga. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga kurang menarik saat suku bunga tinggi.
Investor Menanti Data Ekonomi AS untuk Tentukan Arah Pasar
Di tengah kondisi tersebut, investor juga menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data yang dinantikan meliputi risalah rapat kebijakan Federal Reserve, Personal Consumption Expenditures, serta indeks harga konsumen.
Sebelumnya, bank sentral AS memutuskan menahan suku bunga pada bulan lalu. Mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter yang ketat, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan berfluktuasi dalam waktu dekat. Investor pun cenderung berhati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan dan perkembangan global.
