Harga Emas Dunia Menguat Dua Hari Berturut-turut di Tengah Ketegangan Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Konflik Timur Tengah Mendorong Kenaikan Harga Emas sebagai Aset Safe Haven
Jakarta – Harga emas dunia mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut pada perdagangan awal pekan. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Pada perdagangan Senin, harga emas spot naik 0,5 persen ke level USD 4.513,54 per ounce. Sebelumnya, harga sempat menyentuh titik terendah sejak awal November pada pekan lalu. Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April melonjak sebesar USD 115,30 dan ditutup di posisi USD 4.524,30 per ounce.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyatakan bahwa konflik geopolitik masih menjadi faktor utama yang mendorong penguatan harga emas. Ia menilai kondisi perang yang belum menunjukkan tanda mereda membuat investor terus memburu emas sebagai instrumen perlindungan nilai.
Selain itu, pasar juga memusatkan perhatian pada pergerakan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi, serta indeks dolar Amerika Serikat yang ikut memengaruhi arah harga emas dalam jangka pendek.
Eskalasi Konflik Iran dan Israel Memperkuat Sentimen Pasar Global
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel dan berjanji akan memberikan balasan lebih lanjut. Di sisi lain, Israel terus menggencarkan serangan ke wilayah Teheran.
Keterlibatan kelompok Houthi di Yaman turut memperluas konflik dan memicu lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini memperkuat ketidakpastian global sekaligus meningkatkan minat investor terhadap aset aman seperti emas.
Dengan situasi geopolitik yang terus berkembang, pelaku pasar memperkirakan volatilitas harga emas masih akan berlangsung dalam waktu dekat.
Tekanan Inflasi dan Suku Bunga Menahan Kenaikan Harga Emas
Meski mencatat kenaikan dalam dua hari terakhir, harga emas justru berada dalam tren penurunan secara bulanan. Sepanjang Maret 2026, harga emas tercatat turun lebih dari 13 persen, menjadikannya penurunan bulanan terdalam sejak 2008.
Lonjakan harga energi akibat konflik memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap berada di level tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Tingginya suku bunga membuat emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil bunga. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menahan laju kenaikan harga emas meskipun permintaan safe haven meningkat.
Pelaku Pasar Menanti Data Ekonomi Penting untuk Arah Selanjutnya
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dirilis dalam waktu dekat. Data tersebut meliputi lowongan kerja, penjualan ritel, laporan ketenagakerjaan ADP, hingga nonfarm payrolls.
Rangkaian data ini akan memberikan gambaran baru mengenai kondisi ekonomi global sekaligus menjadi acuan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Dengan demikian, pergerakan harga emas selanjutnya sangat bergantung pada hasil data tersebut dan dinamika geopolitik yang terus berkembang.
