Harga Emas Dunia Melemah 1,1 Persen dalam Sepekan, Investor Tetap Pegang Prospek Positif
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Harga emas dunia bergerak turun sepanjang perdagangan akhir pekan dan berpotensi mencatat koreksi mingguan lebih dari satu persen. Pelemahan ini muncul ketika lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global, sehingga pasar kembali menghitung peluang bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari CNBC pada Sabtu, 2 Mei 2026, harga emas spot turun 1,1 persen menjadi USD 4.568,82 per ons. Dalam pergerakan mingguan, emas juga berada di jalur penurunan sekitar 1,2 persen. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni ikut melemah 1,1 persen ke level USD 4.579,70 per ons.
Tekanan terhadap emas muncul setelah harga minyak mentah global terus meningkat. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi inflasi dan mendorong pasar memperkirakan bank sentral belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
Lonjakan Harga Minyak Dorong Bank Sentral Menahan Suku Bunga
Kenaikan harga minyak, terutama minyak acuan Brent yang kini mencapai dua kali lipat dibandingkan awal tahun, langsung memengaruhi sentimen pasar global. Lonjakan tersebut meningkatkan risiko inflasi sekaligus memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia.
Situasi semakin kompleks setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Iran menyampaikan ancaman respons keras terhadap Amerika Serikat dan menegaskan klaim strategis atas Selat Hormuz. Perkembangan geopolitik itu ikut memperbesar tekanan terhadap pasar energi dan keuangan global.
Di Amerika Serikat, data inflasi Maret menunjukkan kenaikan, terutama akibat meningkatnya harga bahan bakar. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun depan.
Selain Federal Reserve, sejumlah bank sentral utama seperti European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan juga memilih menahan suku bunga. Dalam situasi seperti ini, emas biasanya menghadapi tekanan karena tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen obligasi.
Analis Prediksi Harga Emas Tetap Menguat dalam Jangka Panjang
Meski pasar emas menghadapi tekanan dalam jangka pendek, sejumlah analis tetap melihat prospek positif untuk beberapa kuartal ke depan. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai pergerakan emas masih memiliki fondasi kuat untuk kembali naik ketika tekanan suku bunga mulai mereda.
Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian politik menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat, potensi pelemahan dolar AS, dan kemungkinan turunnya suku bunga riil dapat kembali meningkatkan minat investasi pada emas.
UBS memperkirakan harga emas berpeluang menembus USD 5.900 per ons pada akhir 2026 jika kondisi pasar global terus dipenuhi ketidakpastian.
Di sisi lain, logam mulia lain juga mengalami tekanan. Harga perak turun 0,6 persen menjadi USD 73,27 per ons, platinum melemah 1,3 persen ke USD 1.960,30, dan palladium turun 0,6 persen ke level USD 1.515,37 per ons.
