Konflik Geopolitik Dorong Koreksi Harga Emas Dunia dan Indonesia

Harga Emas Dunia Terkoreksi Tajam di Awal Perdagangan
Jakarta – Harga emas dunia pada Senin, 6 April 2026, mengalami tekanan signifikan dengan tercatat di level USD4.614,43 per troy ons. Penurunan 1,31% terjadi hanya dalam satu jam setelah pasar dibuka, melanjutkan tren pelemahan sejak akhir pekan lalu. Pada Kamis, 2 April 2026, harga emas merosot 1,72% sebelum perdagangan Jumat ditutup karena perayaan Jumat Agung. Tren penurunan ini menandai koreksi besar yang telah berlangsung sejak Januari 2026, dengan emas turun sekitar 26% dari puncaknya dan kehilangan lebih dari USD 2 triliun nilai pasar.
Eskalasi Geopolitik Timur Tengah Memengaruhi Pergerakan Emas
Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperpanjang tenggat Selat Hormuz dan mengancam infrastruktur strategis Iran. Sementara itu, Iran tetap pada posisi militernya, termasuk menargetkan wilayah yang menjadi kepentingan AS. Ketegangan ini menciptakan dinamika pasar yang kompleks, di mana peluang diplomasi berbanding lurus dengan risiko gangguan pasokan energi global. Aktivitas militer yang terus berlangsung memicu spekulasi bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama, sehingga investor menimbang risiko krisis energi dengan potensi rebound harga emas.
Penguatan Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Tekan Emas
Meski ketegangan geopolitik biasanya mendorong kenaikan emas, tekanan kali ini dipicu penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi. Lonjakan harga minyak mendorong permintaan dolar global, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di Indonesia, harga emas Antam tercatat turun menjadi Rp2.831.000 per gram dari Rp2.857.000 per gram. Harga buyback juga terkoreksi menjadi Rp2.550.000 per gram. Emas digital di aplikasi Treasury tercatat Rp2.651.225 per gram, turun Rp16.600 dibanding penutupan pekan sebelumnya.
Prospek Harga Emas Masih Dipengaruhi Kebijakan Moneter AS
Ke depan, harga emas akan terus dipengaruhi kebijakan Federal Reserve. Ketua Jerome Powell menegaskan risiko inflasi masih tinggi, memperkecil kemungkinan pemangkasan suku bunga. Kondisi suku bunga tinggi menurunkan daya tarik emas, sehingga investor cenderung beralih ke obligasi atau instrumen berbasis kas. Namun permintaan dari bank sentral global tetap menjadi penopang harga jangka panjang. Data inflasi dan indikator tenaga kerja AS akan menentukan arah kebijakan berikutnya, sementara Goldman Sachs dan UBS mempertahankan proyeksi positif jangka panjang meski ada koreksi jangka pendek.
Treasury Dorong Masyarakat Mulai Investasi Emas Digital
Meski harga harian fluktuatif, Treasury mendorong masyarakat mulai menabung emas digital mulai dari Rp5.000. Treasury, pedagang emas fisik digital pertama berlisensi BAPPEBTI, menjamin keamanan transaksi melalui aplikasi dan kemitraan dengan PT Antam dan UBS. Fitur seperti Jamimas, Panen Emas dengan bunga 9% p.a, simpan dan transfer gratis, serta promo menarik membuat investasi emas lebih mudah dan aman. Pengguna juga dapat mencetak tabungan emas menjadi fisik, koin, atau perhiasan, menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang.
