Harga Emas Treasury Bergerak Dinamis Menjelang dan Setelah Lebaran

Harga Emas Treasury Turun Bertahap Sebelum Lebaran
Jakarta – Pergerakan harga emas Treasury menunjukkan dinamika tajam menjelang Lebaran 2026. Pada Selasa, 17 Maret 2026, harga emas masih berada di level Rp2.847.960 per gram, namun pada Rabu, 18 Maret 2026, harga mulai terkoreksi menjadi Rp2.818.273 per gram. Penurunan berlanjut pada Kamis, 19 Maret 2026, menjadi Rp2.769.017 per gram. Koreksi ini mencerminkan tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi dan penguatan dolar AS yang membuat emas kurang diminati investor. Selain itu, aksi ambil untung setelah reli panjang sebelumnya turut mempercepat penurunan harga logam mulia.
Emas Treasury Anjlok Tajam Saat Periode Lebaran
Memasuki Lebaran, harga emas menghadapi tekanan lebih dalam. Pada Jumat, 20 Maret 2026, harga turun signifikan ke Rp2.723.392 per gram dan terus melemah hingga Sabtu, 21 Maret 2026, menjadi Rp2.655.158 per gram. Titik terendah tercatat pada Minggu, 22 Maret 2026, yaitu Rp2.619.062 per gram. Penurunan tajam ini dipicu oleh volatilitas harga minyak yang ekstrem, penguatan dolar AS, serta ekspektasi kebijakan moneter yang ketat. Investor melakukan likuidasi besar-besaran sehingga tekanan jual mendominasi pasar selama periode Lebaran.
Emas Treasury Memulai Pemulihan Setelah Lebaran
Setelah Lebaran, harga emas mulai menunjukkan tanda pemulihan. Pada Senin, 23 Maret 2026, harga naik tipis ke Rp2.630.551 per gram meski sempat melemah pada Selasa, 24 Maret 2026, menjadi Rp2.583.906 per gram. Harga kemudian rebound pada Rabu, 25 Maret 2026, ke Rp2.649.607 per gram. Pada Kamis, 2 April 2026, harga emas kembali menguat ke Rp2.712.805 per gram. Pemulihan ini menunjukkan pasar mulai mencari keseimbangan setelah periode tekanan tajam. Minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai tetap bertahan meski kondisi global masih bergejolak.
Gejolak AS–Iran Menekan Harga Emas Secara Signifikan
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama gejolak pasar. Intensitas serangan meningkat, ditandai dengan keterlibatan Israel dan AS menyerang target di Iran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai wilayah strategis termasuk Israel, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Gangguan di Selat Hormuz menyebabkan lebih dari 3.000 kapal terjebak di Teluk Persia, meningkatkan tekanan pada rantai pasok energi dan mendorong investor mengamankan aset likuid.
Pengumuman Jeda Serangan AS Mengubah Sentimen Pasar
Pasar bereaksi ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran pada Senin, 23 Maret 2026. Pernyataan ini menciptakan harapan meredanya konflik, meski Iran membantah adanya negosiasi. Sentimen positif ini memicu sebagian investor mengalihkan fokus ke aset berisiko, sehingga menekan harga emas jangka pendek.
Volatilitas Harga Minyak Memengaruhi Pergerakan Emas
Harga minyak Brent bergerak fluktuatif antara USD97 hingga USD119 per barel selama periode Lebaran. Lonjakan harga minyak mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat konflik. Setelah penundaan serangan, harga minyak kembali turun di bawah USD100 per barel, memengaruhi sentimen terhadap emas. Kombinasi tekanan harga energi dan ekspektasi suku bunga tinggi membuat pergerakan emas menjadi tidak stabil, namun rebound setelah Lebaran menegaskan peran emas sebagai aset aman.
