Analis Prediksi Harga Emas Berpotensi Tembus Rp3 Juta dalam Waktu Dekat
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5382999/original/069219700_1760612391-3.jpg)
Ibrahim Assuaibi Memproyeksikan Pergerakan Emas Masih Fluktuatif Pekan Depan
Jakarta – Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia dan logam mulia masih bergerak fluktuatif pada pekan depan. Ia menilai dinamika ini terjadi akibat tekanan geopolitik global yang meningkat serta penguatan dolar Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa indeks dolar berpotensi bergerak dalam rentang lebar seiring meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, harga minyak mentah dunia juga diperkirakan menguat karena eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara.
Tekanan Pasar Mendorong Harga Emas Berpotensi Terkoreksi
Ibrahim mengungkapkan bahwa harga emas dunia sebelumnya ditutup di level USD 4.671 per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri berada di kisaran Rp2.857.000 per gram.
Ia menilai bahwa jika tekanan berlanjut, harga emas berpotensi terkoreksi ke level support di USD 4.543 per troy ounce. Kondisi tersebut dapat mendorong harga logam mulia domestik turun ke sekitar Rp2.827.000 per gram. Bahkan, jika tekanan semakin kuat, harga emas diperkirakan bisa turun hingga di bawah Rp2,8 juta per gram.
Konflik Geopolitik Mendorong Peluang Kenaikan Harga Emas
Meski berpotensi terkoreksi, Ibrahim menegaskan bahwa peluang kenaikan harga emas tetap terbuka. Ia menilai konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi faktor utama yang menopang harga emas sebagai aset safe haven.
Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, serta kelompok milisi di kawasan tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan memperkuat dolar AS. Dampaknya, nilai tukar rupiah dapat tertekan dan meningkatkan daya tarik emas di pasar domestik.
Pelemahan Rupiah dan Sentimen Global Berpotensi Mendorong Harga ke Rp3 Juta
Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah menuju kisaran Rp17.120 per dolar AS akan menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga emas. Ia bahkan menyebut harga logam mulia berpotensi menembus level Rp3 juta per gram dalam waktu dekat.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan moneter Amerika Serikat. Data ekonomi yang masih solid membuka peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga, yang dalam jangka pendek dapat menekan harga emas.
Namun demikian, Ibrahim menilai ketegangan global dan potensi perang dagang tetap menjadi faktor dominan yang akan menopang harga emas ke depan. Dengan kombinasi faktor tersebut, peluang kenaikan harga emas dinilai masih cukup kuat meskipun dibayangi fluktuasi jangka pendek.
